Jumat, 14 September 2018

Sahabat

Terdengar suara sayup –sayup adzan subuh dari arah masjid, pagi itu, Andi langsung berinjak dari ranjangnya menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.Kemudian ia membangunkan ayah dan ibunya, dan mengajaknya untuk sholat subuh berjama’ah di masjid .“Ayah, Ibu!Ayo bangun, sudah adzan subuh”, kata Andi.Tidak lama kemudian ayah dan ibu Andi bangun dari tidurnya, dan membuka pintu kamarnya. “Sebentar ya nak, kami ke kamar mandi dulu”, kata Ayah Andi. “Baik Yah, biar Andi tunggu di ruang tamu”, jawab Andi.Sambil menunggu kedua orangtuanya kembali dari kamar mandi, Andi membaca Al-Qur’an dan berdo’a untuk kebaikan dirinya dan kedua orangtuanya, baik di dunia maupun di akhirat. “Andi, ayo ke masjid, keburu siang nanti”, kata Ibu Andi. “Baik Bu”, jawab Andi.Sampai di masjid, mereka masuk ke barisan sholat.
Setelah selesai sholat, mereka berdo’a dengan khusyuk.Kemudian kembali pulang ke rumah.Saat perjalanan pulang ke rumah, Andi bertemu dengansahabatnya, “hai Ndi….!”Sahut Gilang menghampiri Andi. “Ayah sama Ibu duluan saja pulang ke rumah, soalnya aku mau bertemu dengan Gilang, teman sekelasku, mungkin dia mau berbicara denganku”, kata Andi. “Baiklah nak, tapi jangan lama-lama, nanti kamu terlambat berangkat ke sekolah, kata Ayah Andi. “Siap Yah!”, kata Andi. “Hai Andi, bagaimana kabar kamu ?” Kata Gilang. “Baik,ada apa ?Sepertinya penting sekali”, jawab Andi dengan keheranan. “Begini An, aku lupa belum mengerjakan tugas matematika, kamu mau tidak, nanti mengajariku bagaimana menyelasaikan tugasku di sekolahan ?” Kata Gilang dengan penuh harapan. “Aku sih mau aja, tapi bagaimana kamu bisa lupa mengerjakan tugas matematika, bukankah matematika adalah mapel yang kamu senangi”, jawab Andi sambil bergurau. “Wah!Kamu ini An…bercanda aja, memang matematia adalah mapel yang aku senangi, sampai senangnya nggak bisa mengerjakan.Sebenarnya bukan itu An…alasannya, tetapi kemarin aku pulang sekolah ada rapat OSIS sampai petang untuk persiapan acara perpisahan kakak kelas.Sampai rumah sudah malam dan kecapekan, lalu aku memutuskan untuk tidur dan tau-tau bangun sudah jam 5 pagi.Aku baru menata jadwal tadi pagi dan membuka buku matematika ternyata ada tugas, dan baru aku kerjakan lima nomor, masih ada lima nomor lagi yang belum aku kerjakan.Jadi aku memohon sekali kepadamu untuk mengajariku menyelesaikan tugas tersebut.”Jawab Gilang dengan panjang lebar menerangkan alasan tersebut. “Ya ampun Lang, kamu ini seperti bicara sama siapa aja, kan aku ini sahabatmu, ya sudah, nanti aku ajarin.Eh……Lang sudah jam setengah enam kurang sepuluh menit nih,sampai jumpa di sekolah nanti ya”, kata Andi. “Ya An…terima kasih”, kata Gilang. “Sama-sama Lang”, jawab Andi sambil pergi pulang ke rumah.
“Tok-tok-tok”, suara pintu rumah yang diketuk Andi. “Assalamu’alaikum……”, ucap Andi sambil mengetuk pintu. “Wa’alaikumsalam, jawab Ayah Andi sambil membuka pintu. “Ooo Andi, ayo buruan mandi, nanti kamu telambat”, kata Ayah Andi. “Baik Yah”,kata Andi.Selesai mandi dan ganti baju, Andi menuju ke meja makan. “Andi, sini nak duduk, makanannya sudah siap”, kata Ibu Andi.Setelah selesai makan, Andi langsung memakai sepatu dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. “Ayah, Ibu, aku berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum…”, kata Andi sambil mencium tangan kedua orangtuanya. “Wa’alaikumsalam… hati-hati ya nak,belajar yang rajin di sekolah”, pesan kedua orangtua Andi.
Kemudian Andi langsung bergegas berangkat ke sekolah dengan mengayuh sepedanya.Tiba-tiba sampai di perempatan jalan, Andi merasa bahwa sepeda yang ia kayuh terasa berat sekali.Lalu ia memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan, dan tidak disangka ternyata ban sepedanya bocor.Saat itu, ia sangat cemas,karena waktu yang ia miliki untuk sampai ke sekolah sangat singkat.Untung saja di sekitar perempatan jalan ada sebuah bengkel.Sehingga dia bisa meninggalkan sepedanya sementara di bengkel tersebut.Kemudian dia melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki.
Tiba di sekolah, dia sangat bersyukur,karena belum terlambat dan masih memiliki waktu sekitar 20 menit.Andi langsung berlari menuju ke kelasnya dan menemui Gilang. “Lang, maaf ya, aku terlambat,karena tadi ban sepedaku bocor”, kata Andi sambil terengah-engah. “Iya, tidak apa-apa, aku mengerti”, kata Gilang. “Baiklah, aku akan mengajari tugas matematikamu sekarang, sebelum bel masuk berbunyi”, kata Andi sambil mengeluarkan buku tugas dari tasnya. “Tapi, kamu masih lelah”, kata Gilang. “Tidak apa-apa sahabatku”, jawab Andi.Saat Andi sibuk mengajarkan tugas tersebut pada Gilang,tiba-tiba Dimas dan sekelompok gengnya datang menghampiri Andi dan Gilang, “Hai anak kerbau!Pergilah dari kursi ini, kursi ini sudah menjadi singgasanaku!”, bentak Dimas sambil menggebrak meja. “Bagaimana bisa, kursi ini menjadi singgasanamu, kursi ini milik semua siswa kelas ini,seharusnya kau yang minggir dari kursi ini, karena Andi dulu yang menempati kursi ini”, lawan Gilang. “Karena aku anak kepala sekolah sini!”Jawab Dimas. “Tetapi bukankah telah menjadi kesepakatan bersama, bahwa siapa saja yang lebih dahulu menempati kursi manapun, maka orang tersebut tidak boleh diusir oleh siapapun”, sahut Andi. “Sekarang kesepakatan itu telah dihapus!”Kata Dimas. “Siapa yang menghapus kesepakatan itu ?”Tanya Gilang. “Aku sendiri yang menghapus kesepakatan tersebut,cepat pindahlah kalian dari kursi ini atau temanku akan menyeret kalian!”Bentak Dimas.“Baiklah, kami akan pindah dari kursi ini”, kata Andi.Sejak pelajaran dimulai sampai pelajaran berakhir,Dimas tidak juga meminta maaf kepada Andi dan Gilang.

Saat pulang sekolah,Dimas dan gengnya merencanakan sesuatu, mereka ingin mencelakai Andi dan Gilang.Tetapi,saat mereka sedang diam-diam merencanakan sesuatu itu, mereka tidak sadar , bahwa pembicaraan mereka telah didengar oleh Gilang.
“Andi….,tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Dimas dan teman-temannya,mereka ingin mencelakai kita berdua”, kata Gilang dengan wajah panik. “Jangan su’udzan kamu,itu tidak baik,bisa saja kamu salah dengar”, kata Andi dengan tenang. “Ya ampun Andi… apa mungkin, kedua telingaku ini sudah tidak berfungsi lagi?”Kata Gilang dengan meyakinkan. “Aku tidak bilang begitu sahabatku, tapi kita tidak boleh su’udzan, lebih baik sekarang kita pulang, langit sudah mendung, keburu hujan nanti, kita berdo’a saja semoga kita bisa pulang dengan selamat”, kata Andi menasehati Gilang. “Baiklah sobat”, kata Gilang.
Di tengah perjalanan pulang ke rumah,mereka asyik berbincang-bincang sambil bersenda gurau.Tiba-tiba hujan turun dengan deras, untung saja mereka membawa jas hujan, sehingga mereka bisa tetap melanjutkan perjalanan mereka tanpa basah kuyup.Hujan yang begitu deras menambah kehangatan bagi mereka berdua,Andi dan Gilang tidak juga berhenti berbincang-bincang dan bersenda gurau sambil memandang ke langit melihat indahnya warna-warni pelangi.Tidak lama kemudian, suasana yang hangat berubah menjadi sangat mencengankan.  Disana, mereka melihat Dimas dan teman-temannya jatuh dari sepeda.Tanpa berfikiran panjang, Andi langsung menghampiri Dimas dan teman-temannya, lalu menolong mereka dan membawanya untuk berteduh. “Gilang……cepat bantu aku menyelamatkan mereka”, jerit Andi kepada Gilang dari kejauhan. Dalam hati Gilang, sebenarnya dia tidak ingin menolong Dimas dan teman-temannya,tetapi,apa boleh buat, dia tidak tega melihat Dimas dan teman-temannya yang mengeluh kesakitan.
Saat Dimas dan teman-temannya telah berteduh,mereka menceritakan semua kejadian tersebut.Mereka merasa bersalah,karena sebenarnya,jebakan yang ia buat itu, untuk menjebak Andi dan Gilang. “Apa!Jadi benar yang aku dengar tadi, kalian ingin mencelakai kami”,kata Gilang dengan nada marah. “Iya Gil…itu memang benar, yang membuat jebakan untuk mencelakai kalian berdua adalah kami”,kata Dimas. “Ya sudahlah Gil… kita sebaiknya memaafkan mereka, mereka telah menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada kita, dan lebih baik kita semua berdamai,tidak ada musuhan diantara kita”, kata Andi menasehati. “Terima kasih Andi, kau memang berhati mulia,dan aku akan berjanji tidak akan memusuhi kalian berdua”, kata Dimas. “Tidak apa-apa Dimas, syukurlah, semuanya damai, dan memang  seharusnya kita bersahabat.Setuju!” Kata Andi dengan wajah berseri.Sejak peristiwa itulah mereka menjadi sahabat sejati.     






Oleh: Aisyah Aulia Rahma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar